Muhammad Keanoubie{24} 7B, cinta klub bola Persija Jakarta.Di Blog ini menampilkan diriku,pelajaran sekolah dan sejarah Persija atau seseorang yang terkenal.
Labsky #10
Angkatan 10
Rabu, 24 November 2010
Stadion Utama Gelora Bung Karno
Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah sebuah stadion serbaguna di Jakarta, Indonesia yang merupakan bagian dari kompleks olahraga Gelanggang Olahraga Bung Karno. Stadion ini umumnya digunakan sebagai arena pertandingan sepak bola tingkat internasional. Stadion ini dinamai untuk menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini. Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama stadion ini diubah menjadi Stadion Utama Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama Stadion ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.[1]
Dengan kapasitas sekitar 100.000 orang, stadion yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958 dan penyelesaian fase pertamanya pada kuartal ketiga 1962 ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Menjelang Piala Asia 2007, dilakukan renovasi pada stadion yang mengurangi kapasitas stadion menjadi 88.083 penonton.
Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958. Dan tentunya dengan dana yang cukup besar tersebut itu menjadikan galanggang olahraga ini sebagai stadion sepakbola terbesar di Indonesia.Hingga saat ini, Gelora Bung Karno merupakan satu-satunya stadion yang benar-benar berstandar internasional di Indonesia.
Nama-nama Asli Artis-Artis Indonesia
Pesan buat Adji: Liat nomor 4 dan 32, please!!
1.Nama asli Chrisye?
KRISMAN RAHARDI
2. Siapa nama asli Budi Anduk?
BUDI PRIHATIN.
Emang sama dengan wajahnya yg memprihatinkan. gak..gak..gak…
3. Siapa nama asli Pepeng?
FERRASTA SOEBARDI.
Lebih keren nama aslinya.
4. Siapa nama asli Sule “SOS”
ENTIS.
Adji,Rafi,dll wkwk
5. Siapa nama asli Dorce Gamalama?
AHMAD ASHADI.
Wuakakakakakakaaa.
6. Siapa nama asli Bimbim Slank?
BIMO SETIAWAN ALMACHZUMI.
7. Siapa nama asli Dewi Persik?
DEWI MURYA AGUNG.
Lho, Persik-nya dari mana, Mbak?
8. Siapa nama asli Dian Sastro?
DIANDRA PARAMITHA SASTROWARDOYO.
Emang aslinya sudah kereeen.
9. Siapa nama asli Ian Kasela “RADJA”?
SAMIJAN.
Busyeeeettt! Jauh amat yeeee. Kasela = Kalimantan Selatan. Wuaakakakakakaaak.
10. Siapa nama asli Rhoma Irama?
RADEN HAJI OMA IRAMA.
Beneran nih.
11. Siapa nama asli Mulan Kwok?
WULANSARI.
Huuu….
12. Siapa nama asli artis-artis tampang gaib?
AGUS HADI SUJIWO => Sujiwo Tejo. Lho?
AGUNG YULIANTO => Ki Joko Bodo. Bodoh beneran gak ya?
13. Siapa nama asli Tukul Arwana?
RIANTO.
Lho, kok nama bekennya jadi ikan banget yak!
14. Siapa nama asli Komeng?
ALFIANSYAH.
Walah, ini lebih aneh lagi ya
15. Siapa nama asli Bams Samsons?
BAMBANG REGUNA BUKIT.
Om-om banget .
16. Siapa nama asli Tarzan?
TOTO MARYADI.
Mending kalo Badannya mirip Tarzan aslinya. Guak..guak..guak…
17. Siapa nama asli Didi Kempot?
DIDI PRASETYO.
Apanya yang kempot kalo gitu?
18. Siapa nama asli Jojon?
DJUHRI MASDJAN.
Dari mana datangnya Jojon?
19. Siapa nama asli Indro Warkop?
INDROJOYO KUSUMONEGORO.
20. Siapa nama asli Eko Patrio?
EKO INDRO PURNOMO.
21. Siapa nama asli Tessy?
KABUL BASUKI.
Namanya juga pelawak.
22. Siapa nama asli Inul Daratista?
AINUR ROKHIMAH.
Lho, kok laen banget, Nul?
23. Siapa nama asli Aming?
AMING SUPRIATNA SUGANDHI.
25. Siapa nama asli Adjie Massaid?
CHANDRA PRATOMO SAMIADJI.
26. Siapa nama asli Dik Doang?
RADEN RIZKI MULYAWAN KERTANEGARA HAYANG DENDA KUSUMA.
Oh, ningrat toh.
27. Siapa nama asli Yuni Shara?
WAHYU SETYANING BUDI.
Lho, kok kayak nama laki-laki?
28. Siapa nama asli Titi Kamal?
KURNIATY KAMALIA.
29. Siapa nama asli Roy Martin?
ROY WICAKSONO.
30. Siapa nama asli Titi DJ?
TITI DWIJAYATI.
31. Siapa nama asli Nirina Zubir?
NIRINA RAUDATUL JANNAH ZUBIR.
Ambil depan dan buntut.
32. Siapa nama asli Parto Patrio?
EDDY SUPONO.
Adji, Adji liat ye..
33. Siapa nama asli Deddy Corbuzier?
DEDDY CAHYADI SUNDJOYO.
Corbuzier-nya apaan tuh?
34. Siapa nama asli Ria Irawan?
CHANDRA ARIATI DEWI IRAWAN.
35. Siapa nama asli Moldy 'Radja'
MULYADI.
AKWkawkawkwakwakaw kayak tukang shomay.
36. Siapa nama asli Pasha "Ungu"
SIGIT PURNOMO SYAMSUDIN SAID.
Dari mana ya nama "pasha"nya...??
37. Nama Asli Iwan Fals?
VIRGIAWAN LISTANTO
38. Nama Asli anak ganteng yang bikin Blog ini siapa??
??? yang pasti KERENZZ
1.Nama asli Chrisye?
KRISMAN RAHARDI
2. Siapa nama asli Budi Anduk?
BUDI PRIHATIN.
Emang sama dengan wajahnya yg memprihatinkan. gak..gak..gak…
3. Siapa nama asli Pepeng?
FERRASTA SOEBARDI.
Lebih keren nama aslinya.
4. Siapa nama asli Sule “SOS”
ENTIS.
Adji,Rafi,dll wkwk
5. Siapa nama asli Dorce Gamalama?
AHMAD ASHADI.
Wuakakakakakakaaa.
6. Siapa nama asli Bimbim Slank?
BIMO SETIAWAN ALMACHZUMI.
7. Siapa nama asli Dewi Persik?
DEWI MURYA AGUNG.
Lho, Persik-nya dari mana, Mbak?
8. Siapa nama asli Dian Sastro?
DIANDRA PARAMITHA SASTROWARDOYO.
Emang aslinya sudah kereeen.
9. Siapa nama asli Ian Kasela “RADJA”?
SAMIJAN.
Busyeeeettt! Jauh amat yeeee. Kasela = Kalimantan Selatan. Wuaakakakakakaaak.
10. Siapa nama asli Rhoma Irama?
RADEN HAJI OMA IRAMA.
Beneran nih.
11. Siapa nama asli Mulan Kwok?
WULANSARI.
Huuu….
12. Siapa nama asli artis-artis tampang gaib?
AGUS HADI SUJIWO => Sujiwo Tejo. Lho?
AGUNG YULIANTO => Ki Joko Bodo. Bodoh beneran gak ya?
13. Siapa nama asli Tukul Arwana?
RIANTO.
Lho, kok nama bekennya jadi ikan banget yak!
14. Siapa nama asli Komeng?
ALFIANSYAH.
Walah, ini lebih aneh lagi ya
15. Siapa nama asli Bams Samsons?
BAMBANG REGUNA BUKIT.
Om-om banget .
16. Siapa nama asli Tarzan?
TOTO MARYADI.
Mending kalo Badannya mirip Tarzan aslinya. Guak..guak..guak…
17. Siapa nama asli Didi Kempot?
DIDI PRASETYO.
Apanya yang kempot kalo gitu?
18. Siapa nama asli Jojon?
DJUHRI MASDJAN.
Dari mana datangnya Jojon?
19. Siapa nama asli Indro Warkop?
INDROJOYO KUSUMONEGORO.
20. Siapa nama asli Eko Patrio?
EKO INDRO PURNOMO.
21. Siapa nama asli Tessy?
KABUL BASUKI.
Namanya juga pelawak.
22. Siapa nama asli Inul Daratista?
AINUR ROKHIMAH.
Lho, kok laen banget, Nul?
23. Siapa nama asli Aming?
AMING SUPRIATNA SUGANDHI.
25. Siapa nama asli Adjie Massaid?
CHANDRA PRATOMO SAMIADJI.
26. Siapa nama asli Dik Doang?
RADEN RIZKI MULYAWAN KERTANEGARA HAYANG DENDA KUSUMA.
Oh, ningrat toh.
27. Siapa nama asli Yuni Shara?
WAHYU SETYANING BUDI.
Lho, kok kayak nama laki-laki?
28. Siapa nama asli Titi Kamal?
KURNIATY KAMALIA.
29. Siapa nama asli Roy Martin?
ROY WICAKSONO.
30. Siapa nama asli Titi DJ?
TITI DWIJAYATI.
31. Siapa nama asli Nirina Zubir?
NIRINA RAUDATUL JANNAH ZUBIR.
Ambil depan dan buntut.
32. Siapa nama asli Parto Patrio?
EDDY SUPONO.
Adji, Adji liat ye..
33. Siapa nama asli Deddy Corbuzier?
DEDDY CAHYADI SUNDJOYO.
Corbuzier-nya apaan tuh?
34. Siapa nama asli Ria Irawan?
CHANDRA ARIATI DEWI IRAWAN.
35. Siapa nama asli Moldy 'Radja'
MULYADI.
AKWkawkawkwakwakaw kayak tukang shomay.
36. Siapa nama asli Pasha "Ungu"
SIGIT PURNOMO SYAMSUDIN SAID.
Dari mana ya nama "pasha"nya...??
37. Nama Asli Iwan Fals?
VIRGIAWAN LISTANTO
38. Nama Asli anak ganteng yang bikin Blog ini siapa??
??? yang pasti KERENZZ
Aktual Besok Nihh..
Ikan yang harus aku jelaskan(Arwana Merah & Silver).
Kamis,tanggal 25 besok 7B klompok 3,4,5dan6 mau Persentasi Aktual. 5 dan 6 menjelaskan Museum Air Tawar. Ikan Arwana Merah + Arwana Silver yang tanpa gambar yg harus ku jelaskan. ohh noo...
Fingerboard
Teck Deck Saya
Sebuah Fingerboard atau Finger-Skateboard adalah skateboard lengkap dengan roda bergerak, grafik dan truk. [1] fingerboard adalah 96 mm panjang atau lebih lama, dan dapat memiliki berbagai lebar seperti 26mm (reguler), 28mm (lebar), dan 29mm dan up (ekstra lebar). Ada yang Minis 57mm dan 96mm reguler dan papan mobil. trik Skateboarding dapat dilakukan dengan menggunakan jari, bukan kaki. Kebanyakan trik dilakukan pada fingerboard suatu hal yang sama dengan orang lakukan pada skateboard. Lance Mountain membantu mengembangkan fingerboarding sebagai hobi di akhir 1970-an dan menulis sebuah artikel tentang bagaimana membuat Fingerboards di majalah Transworld's skateboard pada tahun 1985 [1] ≥ Meskipun fingerboarding adalah hal baru selama bertahun-tahun., Mereka menjadi mainan ditagih sebagai produsen skateboard menyadari potensial untuk branding produk dan keuntungan dimulai pada 1990-an. Fingerboards sekarang tersedia sebagai kebaruan mainan mahal serta koleksi high-end, lengkap dengan aksesoris yang satu akan menemukan yang digunakan dengan skateboard ukuran standar. [2] [3] [4] Fingerboards juga digunakan oleh pemain skateboard sebagai model 3-D bantu visual untuk memahami trik potensial dan manuver;. [5] banyak pengguna membuat video untuk mendokumentasikan upaya mereka [6] [7]Serupa dengan fingerboarding, handboarding merupakan versi skala-down skateboard yang pengguna kontrol dengan tangan mereka bukan jari saja, sedangkan jari snowboarding menggunakan versi miniatur snowboard.
Simak
Baca secara fonetik
Selasa, 23 November 2010
Yoeli Soempil
Supporter – Bagi yang belum mengenal Yuli Sumpil, tokoh dalam The Conductors, film dokumenter teranyar karya Andi Bachtiar Yusuf. Berikut ini adalah tulisan Antariksa yang ada di aremania.web.id yang mudah-mudahan bisa memberikan informasi tentang sosok dan keseharian Yuli Sumpil.
The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.
Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.
Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.
Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.
Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.
Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.
Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.
Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”
Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese”.
Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah ada, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebelasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.
Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miiskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.
The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.
Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.
Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.
Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.
Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.
Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.
Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.
Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”
Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese”.
Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah ada, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebelasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.
Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miiskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.
Persidja Berdiri
Pada hari Minggu, 29 November 2009 kemarin, Persija Jakarta Pusat berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya 4-3 dalam pertandingan Liga Super Indonesia 2009-2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat. Bagi tim Persija, kemenangan ini dipersembahkan untuk kado HUT (hari ulang tahun) ke-81 Persija (Persatuan Sepak bola Indonesia Jakarta) yang diperingati setiap tanggal 28 November (1928).
Oh ya, perhatikan tulisannya: HUT ke-81 Persija dan bukan HUT Persija ke-81. Artinya, hanya ada satu Persija dan bukan memperingati Persija 1, Persija 2, …, Persija 81, Persija 82, …, dan seterusnya. OK-lah, sebagian besar dari anda tentu sudah paham. Ini hanya sekadar mengingatkan saja J Loh, kok jadi soal bahasa ya? Ya, bukan apa-apa. Maksudnya, cerita NMR berikut ini akan berkaitan dengan dunia bahasa. Sebutlah cerita tadi sebagai pengantar.
Berkaitan dengan HUT Persija tadi, ada sedikit penemuan NovanMediaResearch yang cukup menarik. Terserah, anda mau melihatnya dari sudut pandang yang mana?

Perhatikan tulisan (caption) foto PERSIDJA dalam halaman blog ini! Nama Persidja tentu masih dalam ejaan lama [Maklum, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) baru mulai berlaku pada 17 Agustus 1972]. Foto hasil penelusuran NMR ini bersumber pada Aneka edisi No. 27 Tahun VI – 20 Nopember 1953. Dalam foto tersebut disertai tulisan: “Jusuf Jahja, ketua Persidja sedang membentangkan riwajat Persidja pada hari ulangtahunnja jang ke-25 Restaurant Jen Pin pada tgl. 8 Nopember jbl.
Pertanyaan:
Kapan Persija lahir (di bulan November 1928): Tanggal 8 atau 28?
Dalam caption foto itu tertulis: 8 Nopember. Apakah “8” dalam tulisan itu merupakan kesalahan cetak (lebih tepatnya, kesalahan tulis) wartawan Aneka? Maklum, wartawan juga manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan J
Untuk memperjelas angka (1) tadi, foto tersebut dimuat dalam Aneka edisi No. 27 Tahun VI – 20 Nopember 1953. Jadi, kalau media tersebut merupakan media beredisi tanggal 20 Nopember 1953 (artinya tanggal 28 November 1953 belum terlewati), apakah peringatan/perayaan ulang tahun Persija yang dipercepat? Kalau tanggal 28 November 1953, bukankah media tersebut tidak mungkin memuat berita yang terjadi pada tanggal 28 November 1953? Kalau itu yang terjadi tentu akan dimuat pada Aneka edisi berikutnya (No. 28 Tahun VI – 30 Nopember 1953).
Angka (3) ini mungkin akan menjadi pembenaran pada saat ini yang meyakini HUT Persija pada 28 November 1928 yaitu: “…pada hari ulangtahunnja yang ke-25 Restaurant Jen Pin…”. Karenanya, untuk mengetahui jawaban angka (3) kita perlu mencari minimal dua jawaban: Pertama, apakah wartawan Aneka lupa menulis kata “di” sebelum “Restaurant” yang menunjukkan tempat “di restaurant”, “di hotel”, “di rumah sakit”, dan sebagainya. Kedua, kalau ulang tahun ke-25 itu merupakan ulang tahunnya Restaurant Jen Pin, kita perlu mencari tahu kapan Restaurant Jen Pin itu berdiri? Ataukah, ulang tahun Persija bersamaan dengan ulang tahun Restaurant Jen Pin? Ah muter-muter terus. Jadi, kapan berdirinya Persija: 8 November 1928 atau 28 November 1928? Hanya waktu yang akan menjawabnya….
Oh ya, perhatikan tulisannya: HUT ke-81 Persija dan bukan HUT Persija ke-81. Artinya, hanya ada satu Persija dan bukan memperingati Persija 1, Persija 2, …, Persija 81, Persija 82, …, dan seterusnya. OK-lah, sebagian besar dari anda tentu sudah paham. Ini hanya sekadar mengingatkan saja J Loh, kok jadi soal bahasa ya? Ya, bukan apa-apa. Maksudnya, cerita NMR berikut ini akan berkaitan dengan dunia bahasa. Sebutlah cerita tadi sebagai pengantar.
Berkaitan dengan HUT Persija tadi, ada sedikit penemuan NovanMediaResearch yang cukup menarik. Terserah, anda mau melihatnya dari sudut pandang yang mana?
Perhatikan tulisan (caption) foto PERSIDJA dalam halaman blog ini! Nama Persidja tentu masih dalam ejaan lama [Maklum, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) baru mulai berlaku pada 17 Agustus 1972]. Foto hasil penelusuran NMR ini bersumber pada Aneka edisi No. 27 Tahun VI – 20 Nopember 1953. Dalam foto tersebut disertai tulisan: “Jusuf Jahja, ketua Persidja sedang membentangkan riwajat Persidja pada hari ulangtahunnja jang ke-25 Restaurant Jen Pin pada tgl. 8 Nopember jbl.
Pertanyaan:
Kapan Persija lahir (di bulan November 1928): Tanggal 8 atau 28?
Dalam caption foto itu tertulis: 8 Nopember. Apakah “8” dalam tulisan itu merupakan kesalahan cetak (lebih tepatnya, kesalahan tulis) wartawan Aneka? Maklum, wartawan juga manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan J
Untuk memperjelas angka (1) tadi, foto tersebut dimuat dalam Aneka edisi No. 27 Tahun VI – 20 Nopember 1953. Jadi, kalau media tersebut merupakan media beredisi tanggal 20 Nopember 1953 (artinya tanggal 28 November 1953 belum terlewati), apakah peringatan/perayaan ulang tahun Persija yang dipercepat? Kalau tanggal 28 November 1953, bukankah media tersebut tidak mungkin memuat berita yang terjadi pada tanggal 28 November 1953? Kalau itu yang terjadi tentu akan dimuat pada Aneka edisi berikutnya (No. 28 Tahun VI – 30 Nopember 1953).
Angka (3) ini mungkin akan menjadi pembenaran pada saat ini yang meyakini HUT Persija pada 28 November 1928 yaitu: “…pada hari ulangtahunnja yang ke-25 Restaurant Jen Pin…”. Karenanya, untuk mengetahui jawaban angka (3) kita perlu mencari minimal dua jawaban: Pertama, apakah wartawan Aneka lupa menulis kata “di” sebelum “Restaurant” yang menunjukkan tempat “di restaurant”, “di hotel”, “di rumah sakit”, dan sebagainya. Kedua, kalau ulang tahun ke-25 itu merupakan ulang tahunnya Restaurant Jen Pin, kita perlu mencari tahu kapan Restaurant Jen Pin itu berdiri? Ataukah, ulang tahun Persija bersamaan dengan ulang tahun Restaurant Jen Pin? Ah muter-muter terus. Jadi, kapan berdirinya Persija: 8 November 1928 atau 28 November 1928? Hanya waktu yang akan menjawabnya….
Langganan:
Postingan (Atom)





